Friday, May 18, 2007

Long Weekend



Long weekend (Kamis Jumat Sabtu Minggu) idealnya refreshing, Ngilangin beban sejenak, ngilangin Dosa…(Eit…kalo ini biasanya malah nambah dink…) yang lebih tepat sich ngilangin tabungan juga….(Yang udah hampir ilang semua…)
Dan akupun bangun, Lihat Jam….Weleh Jam 11.30 siang….(Terserah pada mau bilang apa…ini Fakta…) “Wah ini pasti effect dari Pertemuan RT yg membahas 17-an semalem” bisikku dalam hati…(kebiasaanku memang gak mau Self koreksi tapi cari kambing abu abu dulu…he he he..)
Dan “Klik” Televisi menyala…. Berhubung gak ada Sinetron disiang hari, aku pilih acara News aja…Dan Gedubrak…Berita aneh muncul…”Sebuah Mobil Sedan jatuh dari Lantai 6 sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta”….Sambil kucek kucek mata Aku pelototin TV cembung gue biar yakin bahwa berita ini bukan kembang tidur gue…
Mobil gress yang dikendarai ibu muda beserta Suami dan anaknya yang baru pulang dari kebaktian Terjun bebas dari ketinggian lebih dari 50 meter….Uedannnn tenan….
Aku gak bisa ngomong apa apa lagi….(Selain kaget, factor perut yang sama sekali belum diisi tampaknya ikut memberi andil yang cukup besar)
Dan kembali kebiasaanku mencari kambing abu abu muncul…
Pertanyaannya
1. Apakah ibu yg baru beberapa kali belajar mengemudi itu punya SIM?
Saya berani bertaruh bahwa ibu itu punya SIM meskipun baru beberapa kali pegang kemudi. Lha wong tetangganya temannya saudaranya Delpaijo yang Babar Blas gak bisa mengemudi aja juga punya SIM koq.
Jadi kalau ukurannya SIM, ibu itu sudah layak bawa mobil sendiri. Kalau ternyata kepemilikan SIM tidak menjamin bahwa yang punya ternyata belum layak mengemudi berarti yang harus disalahkan adalah SIM-nya.
2. Apakah Tempat parkirnya sudah memenuhi standart keamanan?
Untuk pertanyaan ini, harus jelas dulu parameternya. Kalau ukurannya bergelantungan diatas KRL aja masih dianggap biasa sbg sesuatu yg tidak membahayakan, maka tembok beton tanpa penguat besi tentu sudah aman.
3. Ketiga Korban tsb jatuh sepulang dari tempat ibadah dilantai 7 pusat perbelanjaan.
Apakah memang begitu sulitkah mencari lahan untuk tempat ibadah dinegeri yang katanya menjunjung tinggi pluralisme dan bertoleransi tinggi ini?
Ataukah Tuhan sekarang memang hanya berada ditempat tempat yg lux sehingga ditempat lain yang kumuh dan miskin sudah tidak ada lagi Tuhan?
Tapi kalau pingin gampang mencari kambing abu abu, ya cukup sebut satu kata “TUHAN”.
Bahwa semua ini karena Tuhan, bukan kesalahan manusia….sudah Takdir…
Kasihan Tuhan…yang selalu dikambing abu abukan atas kebodohan ciptaannya.Eittt….Tuhan koq dikasihani…justru Aku yang pantas dikasihani karena belum makan dari pagi….

Tuesday, February 06, 2007

Hujan Jakarta dan Kisah Sedih Del Paijo

Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya menghadirkan cerita cerita menarik disekeliling kita. Mulai dari Rumah yang berubah seperti kolam atau ada juga teman yang 3 hari gak ganti pakaian.
Dan tidak ketinggalan temen kita Del Paijo ikut berbagi cerita.
Seperti biasa setiap sore Del Paijo pulang kerja diiringi rintik hujan yang gak mau berhenti juga seakan menyindir penguasa di Jakarta agar juga sedikit merasakan rasanya tenggelam seperti penumpang Kapal Senopati dan pesawat Adam Air.
Kira kira 500 meter keluar “Pabrik” , dengan berbekal nilai 9 pada pelajaran PMP waktu SD, temen kita Del Paijo bermaksud menawarkan tumpangan gratis pada 2 orang cewek berseragam sekolah yang kehujanan dipinggir jalan. Tapi dengan sopan ditolak oleh 2 remaja tadi , “Terima kasih Pak, cuman deket koq” kata mereka.
(Busyet dari sini ke jalan raya hampir 3KM koq deket….?) gumam Del Paijo.
Del Paijo tersenyum getir sambil mengingat masa kecilnya dimana setiap sore sehabis Les Inggris dia dengan mudah mendapatkan tumpangan gratis dari Jalan Yogya-Solo sampai kekampungnya. Setiap hari selalu ada orang baik waktu itu.
Penasaran dengan kejadian ini Del Paijo meneruskan perjalanan dan kembali menawarkan tumpangan gratis kepada 3 orang Cowok yang kemungkinan juga baru pulang kerja.
Dan ternyata ketiga orang tsb lebih memilih berjalan kaki 2 km daripada menerima tumpangan Del Paijo.
Dari kejadian tsb Del Paijo menyimpulkan bahwa pelajaran PMP sulit diterapkan di Jakarta, Lebih mudah menerapkan Ekonomi buat cari untung atau Olahraga untuk berlari mengejar pencuri.
Tapi rupanya teman temannya tidak sependapat dengannya, ada 3 hal yg menurut mereka menyebabkan tidak ada yg mau menumpang Del Paijo:
1.Tampang Del Paijo mungkin seperti Om Om genit
2.Mobil butut Del Paijo terlihat seperti Taksi yang butuh penumpang
3.Kombinasi keduanya: Del Paijo terlihat seperti Sopir Taksi yang butuh duit tapi genitnya amit amit.
Tapi kesimpulannya tetap sama, Di Jakarta menolong saja sulit apalagi kalau anda minta pertolongan.
Beruntunglah Anda yang masih tinggal ditempat dimana tolong menolong dan Tepa selira masih menjadi bagian dari hidup masyarakat anda.

Thursday, January 11, 2007

Dibalik Jatuhnya Pesawat Adam Air

Rekan rekan sekalian secara sengaja maupun tidak pasti sedikit banyak mengikuti perkembangan Tragedi Jatuhnya Pesawat Adam Air tujuan Manado beberapa hari lalu.
Terlepas dari belum ditemukannya kotak hitam pesawat..( Pesawatnya aja belum ketahuan posisinya...) harus kita akui bahwa inilah cermin penerbangan domestik murah meriah kita.
Mungkin bagi rekan rekan yang pernah mencobanya dan kebetulan pernah juga mencicipi maskapai penerbangan asing bisa merasakannya sendiri.
Kalau transportasi udara saja seperti itu bagaimana dengan transportasi darat?
Yang pernah naik Kapal Ferry, Metromini, KRL atau kereta Ekonomi bisa menjawab sendiri dalam hati.
Tapi yang unik dari Tragedi terakhir ini adalah "dagelan" Informasi yang didapat masyarakat.
Pejabat tinggi dengan percaya diri tampil di Televisi membawakan berita nasib nyawa orang hanya berdasarkan sumber berita yang belum diCheck kebenarannya.
Menyedihkan sekali memang...
Lalu kenapa hal itu bisa terjadi?
Menurut pandangan saya ada 2 hal utama:
1. Menjadi orang terkenal dengan muncul di TV adalah obsesi banyak orang.
Sehingga dengan hanya bermodalkan "Kata orang" berharap bisa nampang dan seolah olah sebagai narasumber utama tanpa memikirkan akibat dari kesalahan informasi.
2. Menjamurnya Infotainment.
Saking gencarnya tayangan ini, masyarakat sampai bingung mengartikan antara Fakta dengan gosip atau membedakan penting dan tidak penting.
Parahnya lagi kalau Media massa dan Penguasa koq ya gampang percaya pada Gosip yg gak jelas sumbernya.....ck ck ck....
Tapi ya kebangeten tenan kalo tragedi koq disamakan dengan infotainment ......
Yang setuju silakan dan yang gak setuju gak apa apa....